Berdampinglah dengan orang-orang soleh
Berdamping dengan ulama dan orang-orang soleh adalah suatu perkara yang perlu kita tekankan dalam kehidupan kita seharian. Walau di mana kita berada, carilah orang-orang soleh untuk kita dampingi. Orang-orang soleh akan menjadi cermin bagi diri kita. Beruntunglah sesiapa yang bersama mereka, rugilah bagi mereka yang menjauhi mereka, dan celakalah bagi mereka yang memusuhi orang-orang soleh di sisi ALLAH.
Di akhirat kelak, amalan berdamping dengan ulama dan orang-orang soleh ini ada nilainya di sisi ALLAH, sekalipun di dunia dahulunya, seseorang itu tidak pernah berdamping dengan ulama atau orang soleh, melainkan hanya sekali sahaja dalam satu majlis makan, ia tetap dikira bernilai di sisi ALLAH. Beruntunglah orang-orang yang mendapat syafaat daripada orang-orang soleh dengan izi ALLAH di akhirat kelak.
Jesteru itu, apakah kita di dunia ini memilih untuk mendampingi atau menjauhi orang-orang soleh? Atau kita cuba menjadi musuh orang-orang yang soleh dek kerana jahil dan angkuhnya diri kita dengan kedudukan yang kita ada? Siapakah orang-orang yang diizinkan memberi syafaat? Adakah orang-orang yang kita panggil mereka tok guru, ustaz dan ustazah? Marilah kita renung sejenak dan kenali golongan yang diizinkan ALLAH memberi syafaat kepada kita. Mudah-mudahan kita akan berusaha mendampingi mereka dan amalan mereka.
Orang-orang yang diizinkan ALLAH S.W.T untuk memberikan syafaat adalah :
1. Para Nabi dan yang paling utama adalah Nabi Muhammad S.A.W.
2. Malaikat ;
Berdasarkan firman ALLAH:
Maksudnya: “ALLAH mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diredhai ALLAH, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya : 28)
3. Orang-orang shidiq dan yang mati syahid;
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi S.A.W bersabda,
"… Tidaklah seseorang memberikan syafaat lebih banyak dari pemberian syafaat Nabimu, kemudian para malaikat lalu orang-orang yang mati syahid."
Didalam riwayat Tirmidzi, Hakim yang disahihkan oleh Baihaqi,
"Akan masuk surga dengan syafaat seorang dari umatku lebih banyak dari Bani Tamim.” Mereka bertanya,”Bukan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Bukan aku”
Diriwayatkan oleh Baihaqi ;
”Dikatakan kepada seseorang,’Wahai fulan bangun dan berikanlah syafaat, maka orang itu pun memberikan syafaat kepada kabilahnya, anggota keluarga, satu orang atau dua orang tergantung kadar amalnya.”
4. Orang-orang soleh yang berbuat baik kepada manusia.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah hadis yang panjang tentang syafaat orang-orang beriman kepada saudara-saudaranya yang seharusnya ke neraka. Dalam syarahnya—an-Nawawi—mengatakan bahawa syafaat orang-orang beriman adalah bagi orang yang masuk neraka lalu ALLAH memerintahkan orang-orang yang memberikan syafaat agar mengeluarkan mereka darinya atau kepada orang yang seharusnya ke neraka setelah orang itu berada dibarisan yang siap dihumban ke neraka, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah berupa syafaat seorang laki-laki yang berada dibarisan yang baik kepada barisan kedua dengan memberikannya minuman atau menunaikan suatu keperluannya di dunia, seperti disebutkan Qurthubi didalam tafsir ayat kursi.
5. Para penghafal Al Qur’an,
Sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah dari Ali bahwa Nabi S.A.W bersabda,
”Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, menghafalkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram maka ALLAH akan memasukkannya ke syurga dan dia boleh memberikan syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya yang kesemuanya seharusnya masuk neraka.”
6. Anak-anak kecil yang meninggal yang belum sampai usia baligh atau taklif.
Diriwayatkan oleh an-Nasai dengan sanadnya,
”Bahwa pada hari kiamat anak-anak kecil akan berdiri lalu dikatakan kepada mereka,’Masuklah ke surga.’ Maka mereka mengatakan,’(Saya akan masuk) sehingga bapak-bapak kami masuk (juga) ke surga.’ Dikatakan kepada mereka,’Masuklah kalian dan bapak-bapak kalian ke syurga.”
Hadis ini dikuatkan oleh hadis-hadis shahih lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. (Fatawa Al Azhar juz VIII hal 104)
Memang tidak disebutkan secara jelas bahwa seorang Tok Guru, ustaz , atau mufti boleh memberikan syafaat kepada orang lain di akhirat nanti. Sesungguhnya istilah Tok Guru, Ustaz dan sebagainya hanyalah gelaran yang diberikan manusia kepadanya kerana ilmu agama mereka. Gelaran tersebut boleh jadi sesuai atau juga tidak sesuai dengan keinginan ALLAH. ALLAH S.W.T tidak hanya mengiktiraf ilmu-ilmu seseorang, bahkan ALLAH melihat amalan dan keikhlasan beramal dari ilmu-ilmu yang dimilikinya itu.
Oleh sebab itu apabila seorang ulama atau ustaz mampu membuktikan ilmu-ilmu yang dimilikinya dengan amal-amal solehnya, atau sifat siddiq (benar) terhadap ilmunya, atau bahkan hingga dirinya mati dijalan ALLAH sebagai syahid maka pastilah dia berhak untuk memberikan syafaat kepada orang lain setelah mendapatkan izin dari ALLAH S.W.T .
WaLLAHu A’lam
Diolah dari: Santapan Minda Pejuang
Di akhirat kelak, amalan berdamping dengan ulama dan orang-orang soleh ini ada nilainya di sisi ALLAH, sekalipun di dunia dahulunya, seseorang itu tidak pernah berdamping dengan ulama atau orang soleh, melainkan hanya sekali sahaja dalam satu majlis makan, ia tetap dikira bernilai di sisi ALLAH. Beruntunglah orang-orang yang mendapat syafaat daripada orang-orang soleh dengan izi ALLAH di akhirat kelak.Jesteru itu, apakah kita di dunia ini memilih untuk mendampingi atau menjauhi orang-orang soleh? Atau kita cuba menjadi musuh orang-orang yang soleh dek kerana jahil dan angkuhnya diri kita dengan kedudukan yang kita ada? Siapakah orang-orang yang diizinkan memberi syafaat? Adakah orang-orang yang kita panggil mereka tok guru, ustaz dan ustazah? Marilah kita renung sejenak dan kenali golongan yang diizinkan ALLAH memberi syafaat kepada kita. Mudah-mudahan kita akan berusaha mendampingi mereka dan amalan mereka.
Orang-orang yang diizinkan ALLAH S.W.T untuk memberikan syafaat adalah :
1. Para Nabi dan yang paling utama adalah Nabi Muhammad S.A.W.
2. Malaikat ;
Berdasarkan firman ALLAH:
يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُم مِّنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ
Maksudnya: “ALLAH mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diredhai ALLAH, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbiya : 28)
3. Orang-orang shidiq dan yang mati syahid;
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Baihaqi dari Ibnu Mas’ud bahwa Nabi S.A.W bersabda,
"… Tidaklah seseorang memberikan syafaat lebih banyak dari pemberian syafaat Nabimu, kemudian para malaikat lalu orang-orang yang mati syahid."
Didalam riwayat Tirmidzi, Hakim yang disahihkan oleh Baihaqi,
"Akan masuk surga dengan syafaat seorang dari umatku lebih banyak dari Bani Tamim.” Mereka bertanya,”Bukan engkau wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Bukan aku”
Diriwayatkan oleh Baihaqi ;
”Dikatakan kepada seseorang,’Wahai fulan bangun dan berikanlah syafaat, maka orang itu pun memberikan syafaat kepada kabilahnya, anggota keluarga, satu orang atau dua orang tergantung kadar amalnya.”
4. Orang-orang soleh yang berbuat baik kepada manusia.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim sebuah hadis yang panjang tentang syafaat orang-orang beriman kepada saudara-saudaranya yang seharusnya ke neraka. Dalam syarahnya—an-Nawawi—mengatakan bahawa syafaat orang-orang beriman adalah bagi orang yang masuk neraka lalu ALLAH memerintahkan orang-orang yang memberikan syafaat agar mengeluarkan mereka darinya atau kepada orang yang seharusnya ke neraka setelah orang itu berada dibarisan yang siap dihumban ke neraka, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah berupa syafaat seorang laki-laki yang berada dibarisan yang baik kepada barisan kedua dengan memberikannya minuman atau menunaikan suatu keperluannya di dunia, seperti disebutkan Qurthubi didalam tafsir ayat kursi.
5. Para penghafal Al Qur’an,
Sebagaimana diriwayatkan Tirmidzi, Ibnu Majah dari Ali bahwa Nabi S.A.W bersabda,
”Barangsiapa yang membaca Al Qur’an, menghafalkannya, menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram maka ALLAH akan memasukkannya ke syurga dan dia boleh memberikan syafaat kepada sepuluh anggota keluarganya yang kesemuanya seharusnya masuk neraka.”
6. Anak-anak kecil yang meninggal yang belum sampai usia baligh atau taklif.
Diriwayatkan oleh an-Nasai dengan sanadnya,
”Bahwa pada hari kiamat anak-anak kecil akan berdiri lalu dikatakan kepada mereka,’Masuklah ke surga.’ Maka mereka mengatakan,’(Saya akan masuk) sehingga bapak-bapak kami masuk (juga) ke surga.’ Dikatakan kepada mereka,’Masuklah kalian dan bapak-bapak kalian ke syurga.”
Hadis ini dikuatkan oleh hadis-hadis shahih lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. (Fatawa Al Azhar juz VIII hal 104)
Memang tidak disebutkan secara jelas bahwa seorang Tok Guru, ustaz , atau mufti boleh memberikan syafaat kepada orang lain di akhirat nanti. Sesungguhnya istilah Tok Guru, Ustaz dan sebagainya hanyalah gelaran yang diberikan manusia kepadanya kerana ilmu agama mereka. Gelaran tersebut boleh jadi sesuai atau juga tidak sesuai dengan keinginan ALLAH. ALLAH S.W.T tidak hanya mengiktiraf ilmu-ilmu seseorang, bahkan ALLAH melihat amalan dan keikhlasan beramal dari ilmu-ilmu yang dimilikinya itu.
Oleh sebab itu apabila seorang ulama atau ustaz mampu membuktikan ilmu-ilmu yang dimilikinya dengan amal-amal solehnya, atau sifat siddiq (benar) terhadap ilmunya, atau bahkan hingga dirinya mati dijalan ALLAH sebagai syahid maka pastilah dia berhak untuk memberikan syafaat kepada orang lain setelah mendapatkan izin dari ALLAH S.W.T .
WaLLAHu A’lam
Diolah dari: Santapan Minda Pejuang
0 comments:
Post a Comment